Shahabat

Abu Thalhah Al Anshari, Jasadnya Utuh Karena Rajin Berpuasa

Kehidupan para sahabat adalah keinginan banyak orang. Bisa hidup bersama rasulullah, dibimbing agar menjadi hamba yang bertakwa, menjadi sebaik-baik hamba. Betapa banyak para sahabat yang juga bisa kita teladani kehidupannya. Terlebih pada bulan Ramadhan ini, banyak sekali contoh kebaikan dari mereka yang bisa kita lakukan. Bulan Ramadhan, bulan diwajibkannya ibadah puasa. Berpuasa sebulan penuh untuk meraih takwa. Namun, pada zaman para sahabat dulu, ada salah seorang yang gemar berpuasa, tak hanya di Bulan Ramadhan saja.

Dialah Abu Thalhah Al Anshari. Beliau  berasal dari Suku Khazraj, Kabilah Bani Najjar di Madinah. Setelah masuk islam melalui perantara Ummu Sulaim, Abu Thalhah mengerahkan seluruh daya dan kemampuannya untuk Islam. Dalam setiap peperangan, Abu Thalhah selalu hadir disana. Ia merupakan seorang sahabat Rasulullah yang menjadi prajurit hebat di Perang Badar. Abu Thalhah termasuk barisan pemanah ulung, ia menyebutkan bahwa wajahnya adalah tameng Rasulullah. 

Abu Thalhah dikenal dengan kemurahan hati yang luas. Dengan harta yang ia miliki dari hasil kebun kurmanya, ia selalu berbagi kepada kaum muslim lainnya. Ia kerap berbagi dalam kondisi apapun dalam keadaan kehidupannya. Bahkan karena kedermawanannya, Allah menurunkan sebuah ayat untuk menghargai salah satu perbuatan Abu Thalhah dan keluarganya. Penghargaan tersebut tertulis dalam Surat Al Hasyr ayat 9 yang artinya “Mereka lebih mengutamakan (orang muhajirin) daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka memerlukannya”. 

Kisah keutuhan jasad Abu Thalhah Al Anshari terjadi bahkan saat ia sedang berjihad. Hidup Abu Thalhah Al Anshari, serta merta ia berikan sebagai langkah taat pada Rabb dan Rasul Nya. Abu Thalhah dikaruniai oleh Allah umur yang panjang. Ia hidup hingga masa Khalifah Utsman bin Affan. Ia bersama Istrinya, Ummu Sulaim seperti disebutkan sebelumnya, ia gemar berbagi dengan saudaranya. Ia mengisi hari- hari dalam hidupnya dengan berpuasa, kecuali pada saat hari raya atau hari dimana diharamkan untuk berpuasa. 

Dikisahkan pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dibentuklah sebuah armada angkatan laut. Merekalah yang nantinya akan berangkat untuk ekspansi dalam pengembangan islam kala itu. Mendengar hal tersebut, Abu Thalhah bersemangat, dan berniat untuk turut andil. Padahal saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Singkat cerita, setelah persiapan sudah matang, menjelang keberangkatan, anak Abu Thalhah menghampiri ayahnya. Ia khawatir dengan kondisi sang ayah yang sudah tua. Sang anak pun berkata,

“wahai Ayahku, engkau sudah sangat tua. Engkau telah berperang bersama-sama dengan Rasulullah, bersama Abu Bakar dan juga Umar bin Khattab. Maka kini, ayah cukup beristirahat, biarkan kami yang berangkat berjihad untuk ayah.”

Maka dijawablah oleh Abu Thalhah dengan sebuah ayat yang menjadi penyemangatnya,

ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” Qur’an Surah At Taubah ayat 41.

Dalam tafsir Al Muyassar, Ayat ini sebagai perintah untuk berjihad. Dikatakan, keluarlah kalian (wahai kaum mukminin), untuk berjihad di jalan Allah baik para pemuda maupun orang-orang yang sudah tua, dalam keadaan apapun.

Berangkatlah Abu Thalhah Al Anshari dalam misi jihad itu. Ia yakin dengan perintah dan janji Allah bagi para hamba yang taat kepada-Nya. Panjang perjalanan kaum muslimin dalam mengarungi samudera. Ketika berada di perjalanan, Abu Thalhah yang sudah tua itu, jatuh sakit hingga akhirnya wafat dalam kapal. Akhirnya, pasukan muslimin mulai mencari sebuah pulau untuk menguburkan jasad Abu Thalhah. Akan tetapi, tak ada satupun pulau yang mereka temukan, hingga tujuh hari lamanya.

Pada waktu selama itu, kondisi jenazah Abu Thalhah tidak berubah sama sekali, bahkan hanya tampak seperti orang biasa yang sedang tidur. Setelah menemukan sebuah pulau, mereka segera menguburkan Abu Thalhah, pulau yang jauh dari keluarga dan saudaranya. Menurut para sejarawan, Abu Thalhah wafat pada tahun sekitar 32 – 34 Hijriah, dan Khalifah Utsman bin Affan sendiri yang menjadi imam shalat jenazahnya. 

Wallahu a’lam bishshawwab.

Referensi:

Tafsirweb.com
Tokoh Anshar, Abu Thalhah Al Anshari. Kisahmuslim.com
Buku 65 Orang Shahabat Rasulullah karya Dr Abdurrahman Rafat 

Redha Sindarotama

Quranic Reciter living in Yogyakarta. Actively teaching and spreading the beauty of Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button